Angin sore itu membawa aroma tanah basah yang mengingatkanku pada kegagalan paling memilukan dalam hidup. Aku berdiri di depan pintu tua rumah masa kecilku yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Dahulu, aku mengira dunia akan selalu berputar sesuai keinginanku yang egois dan sering kali meledak-ledak. Namun, kenyataan menghantamku dengan sangat keras, memaksa ego yang tinggi itu luruh menjadi debu yang tak berarti.
Setiap luka yang tergores di hati perlahan berubah menjadi peta yang menuntunku pulang ke arah kedewasaan. Aku mulai memahami bahwa tidak semua teriakan harus dibalas dengan suara yang jauh lebih keras.
Dalam setiap lembar Novel kehidupan yang sedang kutulis ini, ada bab-bab kelam yang ternyata menjadi fondasi terkuat. Tanpa air mata yang jatuh di malam-malam sepi, aku mungkin takkan pernah menghargai arti sebuah ketenangan.
Kedewasaan datang bukan saat aku berhasil meraih segalanya, melainkan saat aku mampu melepaskan apa yang memang bukan milikku. Aku belajar memaafkan diri sendiri atas segala keputusan ceroboh yang pernah kuambil di masa lalu.
Ayah pernah berkata bahwa kekuatan sejati manusia terletak pada kemampuannya untuk tetap diam di tengah badai. Kini, kata-kata itu bukan lagi sekadar suara, melainkan napas yang menghidupkan jiwaku yang sempat mati suri.
Aku menatap pantulan diriku di cermin yang retak, melihat sosok yang lebih tenang dengan tatapan mata yang jauh lebih dalam. Tidak ada lagi amarah yang meluap, hanya ada penerimaan tulus atas segala ketidaksempurnaan yang ada.
Perjalanan ini masih sangat panjang dan penuh dengan tikungan tajam yang mungkin akan kembali menguji batasan sabarku. Namun, aku tidak lagi merasa takut karena aku tahu bahwa setiap luka adalah cara semesta mendidikku menjadi lebih bijak.
Pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kita memilih untuk tetap berdiri meski dunia berkali-kali mencoba merobohkan kita. Pertanyaannya, siapkah aku menghadapi bab selanjutnya yang mungkin jauh lebih menantang dari semua ini?
.png)
.png)
