Dalam struktur hukum Islam, fiqih muamalah menempati posisi yang sangat krusial karena mengatur interaksi antarmanusia dalam ranah ekonomi. Salah satu isu sentral yang menjadi pembeda utama antara sistem ekonomi Islam dan konvensional adalah pelarangan riba secara mutlak. Riba bukan sekadar masalah teknis penambahan nilai nominal, melainkan sebuah problem teologis dan sosiologis yang mampu merusak tatanan keadilan sosial. Secara etimologis, riba bermakna az-ziyadah atau tambahan, namun dalam terminologi syariat, ia merujuk pada tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pertukaran tanpa adanya padanan atau imbalan yang dibenarkan oleh syara. Para ulama sepakat bahwa pengharaman riba merupakan harga mati yang didasarkan pada teks-teks qath'i, di mana implikasinya tidak hanya menyentuh aspek duniawi tetapi juga ukhrawi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ. وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: