Eksistensi doa dalam diskursus keislaman bukan sekadar permohonan transaksional antara makhluk dengan Penciptanya, melainkan sebuah manifestasi tertinggi dari pengakuan kefakiran hamba di hadapan kekayaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Secara ontologis, doa adalah inti dari ibadah yang menghubungkan dimensi fisik manusia yang terbatas dengan dimensi metafisika yang tidak terbatas. Para ulama salaf menegaskan bahwa efektivitas sebuah doa sangat dipengaruhi oleh keselarasan antara kesucian hati, kehalalan konsumsi, dan pemilihan waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syariat sebagai momentum keterbukaan pintu langit. Memahami waktu mustajab memerlukan pendekatan multidimensional, baik dari sisi tekstual (riwayah) maupun pemahaman mendalam (dirayah) terhadap rahasia di balik penentuan waktu-waktu tersebut oleh Allah dan Rasul-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Terjemahan: Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghafir: 60).

Sumber: Muslimchannel