Dinamika pasar minyak global menunjukkan tren pergerakan yang cenderung mendatar pada sesi perdagangan awal pekan ini. Investor nampaknya masih bersikap waspada dalam merespons berbagai sentimen geopolitik yang berkembang di panggung internasional. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global yang sedang berlangsung.
Melansir data dari Reuters, harga minyak mentah Brent mengalami penurunan tipis sebesar 27 sen atau setara 0,38 persen. Komoditas ini akhirnya ditutup pada level US$ 71,49 per barel pada perdagangan Senin (23/2/2026) waktu setempat. Penurunan ini menandakan adanya tekanan jual yang moderat namun tidak sampai mengguncang stabilitas harga secara signifikan.
Di saat yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mencatatkan koreksi ringan sebesar 17 sen atau sekitar 0,26 persen. Minyak mentah acuan Amerika Serikat tersebut kini bertengger di posisi US$ 66,31 per barel pada penutupan perdagangan Selasa (24/2/2026) pagi. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa fluktuasi harga masih berada dalam rentang yang dapat diprediksi oleh pasar.
Fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada rencana putaran ketiga perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi ini dianggap sangat krusial karena berpotensi mengubah peta pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Keberhasilan atau kegagalan perundingan ini dipastikan akan memberikan dampak besar bagi stabilitas energi dunia di masa depan.
Selain isu nuklir, pasar juga tengah mencermati kebijakan tarif baru yang diusung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan proteksionisme ini menimbulkan ketidakpastian baru yang membuat para investor cenderung menahan diri untuk melakukan aksi besar. Langkah Trump tersebut diprediksi akan mengubah pola perdagangan komoditas energi antarnegara secara signifikan.
Kombinasi antara diplomasi internasional dan kebijakan ekonomi domestik AS menciptakan situasi yang kompleks bagi pergerakan harga komoditas. Meski terdapat tekanan dari kebijakan tarif, harapan akan redanya ketegangan dengan Iran memberikan bantalan bagi harga minyak. Hal inilah yang menyebabkan harga minyak dunia tidak mengalami lonjakan atau kejatuhan yang terlalu tajam.
Secara keseluruhan, pasar minyak dunia masih berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu kepastian dari meja perundingan. Para analis memprediksi bahwa volatilitas mungkin akan meningkat seiring dengan rilis hasil resmi dari diskusi nuklir tersebut. Untuk saat ini, stabilitas harga menjadi gambaran utama dari respons pasar terhadap dinamika politik global yang dinamis.
Sumber: Beritasatu
.png)
.png)
