JABARONLINE.COM - Laju nilai tukar rupiah terpantau mengalami tekanan cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi pembukaan perdagangan hari ini. Memasuki akhir pekan di pengujung Februari 2026, mata uang Garuda gagal mempertahankan posisinya di zona hijau. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global yang masih fluktuatif terhadap aset-aset berisiko di pasar berkembang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada pasar spot exchange, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 23 poin. Penurunan tipis sekitar 0,14 persen ini membawa mata uang lokal ke level Rp 16.782 per dolar AS. Transaksi tersebut terekam tepat pada pukul 09.22 WIB di tengah aktivitas pasar yang mulai memanas sejak pembukaan pagi tadi.
Pelemahan ini menjadi sorotan utama para pelaku pasar yang terus memantau pergerakan arus modal asing di dalam negeri. Meskipun koreksi yang terjadi pada pagi ini tergolong moderat, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Para investor kini cenderung bersikap waspada dalam menempatkan dana mereka pada instrumen investasi denominasi rupiah.
Sejumlah analis pasar uang menilai bahwa penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama yang memicu depresiasi rupiah pagi ini. Sentimen eksternal terkait kebijakan moneter di Negeri Paman Sam tetap membayangi pergerakan nilai tukar di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini menuntut otoritas moneter untuk terus memantau pergerakan pasar secara intensif guna menjaga volatilitas tetap terkendali.
Level Rp 16.782 per dolar AS ini memberikan sinyal tantangan baru bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Jika tren pelemahan ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan biaya produksi hingga harga barang konsumsi di tingkat masyarakat. Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan mampu bersinergi dalam meredam gejolak nilai tukar yang terjadi saat ini.
Pergerakan angka di papan perdagangan elektronik menunjukkan fluktuasi yang cukup dinamis sejak bel pembukaan pasar spot berbunyi. Data Bloomberg tetap menjadi acuan utama bagi para pialang dan institusi keuangan dalam menentukan posisi jual maupun beli mata uang asing. Hingga menjelang siang hari, volume perdagangan terpantau masih stabil meski posisi rupiah masih tertahan di zona merah.
Secara keseluruhan, perdagangan hari Jumat ini diawali dengan sentimen yang kurang menguntungkan bagi mata uang rupiah di hadapan dolar AS. Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi domestik terbaru yang diharapkan bisa menjadi katalis positif di sisa waktu perdagangan. Fokus utama pasar tetap tertuju pada kemampuan rupiah untuk kembali bangkit sebelum sesi penutupan pasar sore nanti.
Sumber: Beritasatu
