JABARONLINE.COM - Pasar logam mulia menunjukkan pergerakan yang cenderung melemah pada perdagangan hari Senin, 9 Maret 2026. Penurunan ini terjadi secara tipis meskipun dinamika pasar global sedang mengalami beberapa tekanan signifikan.

Harga perak spot tercatat mengalami sedikit koreksi ke bawah pada sesi perdagangan tersebut. Penurunan yang teramati hanya sebesar 0,2% dari harga penutupan sebelumnya.

Pergerakan harga perak ini terasosiasi erat dengan menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat di pasar internasional. Penguatan dolar seringkali memberikan tekanan jual pada komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut.

Selain faktor mata uang, pasar juga mencermati adanya peningkatan kekhawatiran mengenai inflasi global. Kekhawatiran ini muncul sebagai respons terhadap lonjakan signifikan yang terjadi pada harga minyak mentah dunia.

Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah disebut menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak mentah saat ini. Eskalasi ketegangan regional selalu menjadi variabel penting yang mempengaruhi harga energi global.

"Harga perak spot tercatat turun 0,2% menjadi US$ 84,18 per ons," demikian informasi pergerakan harga yang teramati di pasar komoditas, dilansir dari Beritasatu.com.

Pergerakan harga logam mulia ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terkait kebijakan suku bunga ke depan. Peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga turut menambah tekanan terhadap aset non-imbal hasil seperti perak.

"Pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar logam mulia setelah dolar AS menguat dan ekspektasi suku bunga tinggi kembali meningkat," jelas analisis pasar mengenai kondisi tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar komoditas global masih sangat sensitif terhadap dua faktor utama: kekuatan dolar AS dan ketidakpastian harga energi di tengah isu geopolitik.