JABARONLINE.COM - Pergerakan harga emas global menunjukkan tren penurunan yang signifikan dalam dua minggu terakhir. Tekanan ini terutama dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pasar akan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini terjadi menjelang digelarnya rapat kebijakan moneter oleh bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed). Permintaan likuiditas dolar cenderung meningkat menjelang pengumuman penting tersebut.

Meskipun terjadi pelemahan harga saat ini, para analis pasar memberikan pandangan yang lebih optimis untuk jangka panjang. Mereka meyakini bahwa koreksi yang terjadi hanyalah fenomena sementara.

Menurut analisis pasar, pelemahan harga ini diprediksi tidak akan mengubah tren kenaikan harga emas secara keseluruhan dalam periode waktu yang lebih panjang. Tren fundamental emas dinilai masih kuat.

Dilansir dari Kitco News, pada Sabtu (14/3/2026), pasar emas telah mencatat penurunan harga selama dua pekan berturut-turut. Penurunan ini menunjukkan sentimen pasar yang sedang berhati-hati.

Harga emas spot terakhir kali diperdagangkan pada level US$ 5.044,80 per ons troi. Angka ini merepresentasikan penurunan hampir 2,5% jika dibandingkan dengan harga pada pekan sebelumnya.

Komoditas logam mulia lainnya, perak, juga ikut merasakan tekanan yang serupa di pasar. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan pasar yang lebih luas yang mempengaruhi logam mulia secara umum.

"Pasar emas mencatat penurunan selama dua minggu berturut-turut," mengutip data dari Kitco News mengenai perkembangan terkini komoditas tersebut.

Adapun harga perak tercatat berada di level US$ 81,04 per ons troi pada periode yang sama. Harga perak mengalami penurunan sekitar 4% dalam kurun waktu sepekan terakhir.