JABARONLINE.COM - Semarang menjadi pusat perhatian publik pada awal Maret 2026 menyusul mencuatnya kasus serius di lingkungan Universitas Diponegoro (Undip). Kasus ini melibatkan Arnendo, seorang mahasiswa berusia 20 tahun dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) jurusan Antropologi Sosial.
Kejadian yang menimbulkan kegemparan luas ini berpusat pada dugaan adanya pengeroyokan brutal yang dialami oleh korban. Insiden ini menimbulkan keresahan mendalam, terutama di kalangan akademisi dan masyarakat umum.
Peristiwa tragis yang menimpa Arnendo ini sendiri sebenarnya terjadi jauh sebelum mencuat ke permukaan, yakni pada tanggal 15 November 2025. Namun, kasus ini baru benar-benar menjadi sorotan nasional setelah rekaman kondisi korban tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Dilansir dari BisnisMarket.com, Arnendo diduga menjadi korban kekerasan yang melibatkan sekelompok besar rekan dan seniornya. Jumlah pelaku yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan ini mencapai sekitar 30 orang.
Para terduga pelaku kekerasan tersebut diketahui merupakan mahasiswa yang berasal dari jurusan yang sama dengan Arnendo. Hal ini menambah dimensi serius pada permasalahan yang terjadi dalam lingkungan internal kampus tersebut.
Akibat dugaan pengeroyokan tersebut, korban dilaporkan mengalami dampak psikologis yang signifikan. Kondisi trauma berat yang dialami Arnendo menjadi salah satu fokus utama dalam penanganan kasus ini.
Jagat media sosial dan lingkungan akademis Undip dikejutkan oleh kasus yang menimpa Arnendo (20), seorang mahasiswa jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yang terjadi pada awal Maret 2026. Hal ini disampaikan oleh sumber berita.
"Kasus ini menjadi sorotan tajam karena melibatkan dugaan pengeroyokan brutal yang berujung pada trauma berat bagi korban," ujar salah satu pihak terkait perkembangan kasus ini.
Peristiwa tragis ini bermula pada 15 November 2025, namun baru mencuat ke publik pada awal Maret 2026 setelah video kondisi korban viral, sebagaimana dikonfirmasi oleh berbagai laporan media.
