Pasar komoditas global dikejutkan oleh lonjakan signifikan harga perak pada perdagangan awal pekan ini. Logam mulia tersebut berhasil menembus level psikologis US$ 88 per ons pada Senin (23/2/2026). Kenaikan tajam ini mencatatkan posisi harga tertinggi dalam kurun waktu lebih dari dua pekan terakhir.
Berdasarkan data pasar terbaru, harga perak spot tercatat melesat hingga 4,53% menuju level US$ 88,53 per ons. Pergerakan agresif ini menunjukkan kepercayaan diri investor yang mulai beralih ke aset alternatif di tengah volatilitas. Dinamika pasar ini menjadi sorotan utama para pelaku ekonomi di berbagai belahan dunia.
Pemicu utama dari meroketnya nilai perak ini adalah meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven. Langkah tersebut diambil di tengah ketidakpastian yang menyelimuti kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Trump. Para pelaku pasar cenderung mengamankan modal mereka dari potensi fluktuasi ekonomi yang tidak terduga.
Fenomena penguatan ini ternyata tidak hanya terjadi pada komoditas perak semata di pasar internasional. Harga emas dunia terpantau ikut mengalami lonjakan signifikan yang didorong oleh sentimen global yang serupa. Kedua logam mulia ini kembali menjadi primadona saat risiko geopolitik dan ekonomi global kian meningkat.
Hingga memasuki perdagangan Selasa (24/2/2026) pagi, tren positif perak masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Harga perak terpantau masih bertahan kuat di zona hijau pada level US$ 88,41 per ons. Stabilitas di level tinggi ini mencerminkan besarnya tekanan beli yang datang dari para investor global.
Ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat tetap menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan harga komoditas. Investor terus memantau setiap perkembangan terkait regulasi perdagangan internasional yang akan segera diterapkan. Hal ini memicu spekulasi yang cukup tinggi di pasar modal serta pasar komoditas fisik.
Kenaikan harga perak yang drastis ini menjadi sinyal penting bagi peta kekuatan ekonomi global di masa mendatang. Penguatan yang terjadi secara beruntun membuktikan bahwa aset keras tetap menjadi pilihan utama saat krisis membayangi. Pasar kini menanti langkah strategis selanjutnya dari otoritas moneter untuk merespons situasi ekonomi ini.
Sumber: Beritasatu
.png)
.png)
