Dunia investasi dikejutkan dengan lonjakan harga emas yang mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada penghujung Januari 2026. Logam mulia tersebut berhasil menyentuh angka fantastis sebesar US$ 5.589 per ons di pasar global. Fenomena ini memicu gelombang aksi beli besar-besaran dari berbagai kalangan investor di seluruh penjuru dunia.

Kenaikan signifikan ini didorong oleh langkah bank sentral dan investor ritel yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai utama. Namun, di tengah euforia pasar tersebut, sosok legendaris Warren Buffett justru menunjukkan sikap yang sangat kontras. Melalui Berkshire Hathaway, ia tetap memilih untuk tidak terjun ke dalam hiruk-pikuk perdagangan logam kuning tersebut.

Memasuki tahun 2026, Warren Buffett yang kini telah menginjak usia 96 tahun tetap menjadi figur sentral di Omaha. Meskipun tongkat kepemimpinan CEO telah diserahkan kepada Greg Abel, pengaruh sang "Oracle of Omaha" tidak memudar sedikit pun. Ia terus memantau perkembangan pasar global dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip investasi yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

Filosofi investasi Buffett yang sangat terkenal menekankan pada kepemilikan aset yang mampu menghasilkan nilai tambah secara nyata. Bagi Buffett, emas dianggap sebagai aset yang tidak produktif karena tidak bisa menghasilkan arus kas atau dividen bagi pemiliknya. Pandangan ini tetap menjadi kompas utama bagi para pengikut setia strategi investasi nilai di seluruh dunia.

Keputusan Berkshire Hathaway untuk tetap menjaga jarak dari emas menciptakan diskusi hangat di kalangan analis keuangan global. Banyak pihak mempertanyakan apakah strategi konservatif ini masih relevan di tengah ketidakpastian ekonomi yang mendorong harga komoditas naik. Kendati demikian, Buffett tetap percaya bahwa produktivitas bisnis jauh lebih berharga daripada spekulasi harga logam.

Di bawah kepemimpinan Greg Abel, Berkshire Hathaway tetap menunjukkan konsistensi dalam menjaga portofolio yang fokus pada perusahaan-perusahaan fundamental. Transisi kepemimpinan ini tidak mengubah pandangan dasar perusahaan terhadap instrumen investasi seperti emas yang tidak memiliki nilai intrinsik produktif. Hal ini mempertegas bahwa warisan pemikiran Buffett akan terus berlanjut di masa depan.

Pada akhirnya, rekor harga emas di angka US$ 5.589 per ons hanyalah sebuah angka statistik bagi seorang Warren Buffett. Ia lebih memilih untuk menaruh kepercayaan pada aset yang memiliki kemampuan untuk berkembang dan memberikan manfaat ekonomi nyata. Keteguhan prinsip ini menjadi pengingat penting bagi investor tentang esensi dari investasi jangka panjang yang sesungguhnya.

Sumber: Beritasatu

https://www.beritasatu.com/ekonomi/2971134/harga-emas-2026-cetak-rekor-mengapa-warren-buffett-tetap-emoh