Shalat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi vertikal antara hamba dengan Sang Khaliq. Namun, shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban tanpa kehadiran hati (hudhurul qalb) ibarat jasad tanpa ruh. Khusyu secara etimologi berarti tunduk, tenang, dan rendah hati. Dalam diskursus ulama tafsir dan fuqaha, khusyu bukan sekadar gerakan fisik yang statis, melainkan sebuah kondisi mental di mana kesadaran manusia terpusat sepenuhnya kepada Allah SWT, memutus segala keterikatan dengan hiruk-pikuk duniawi saat berdiri di hadapan-Nya. Artikel ini akan membedah landasan teologis dan metodologi praktis untuk mencapai derajat khusyu melalui pendekatan teks primer Islam.

Langkah pertama dalam memahami khusyu adalah merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu'minun yang menetapkan khusyu sebagai parameter keberuntungan seorang mukmin.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

Sumber: Muslimchannel