JABARONLINE.COM - Pemerintah Australia secara resmi mengumumkan kebijakan darurat pada hari Senin, (30/3/2026), sebagai langkah antisipatif terhadap guncangan harga energi di pasar internasional. Langkah taktis ini diambil untuk meredam dampak langsung lonjakan biaya hidup yang mulai terasa di kalangan masyarakat Australia.
Kebijakan fiskal mendesak yang diimplementasikan tersebut mencakup dua sektor utama yang sangat sensitif terhadap harga komoditas energi. Salah satu fokus utama adalah pemotongan pajak bahan bakar yang berlaku untuk konsumen kendaraan bermotor.
Selain itu, pemerintah juga memutuskan untuk menghapus sementara biaya jalan yang selama ini dibebankan kepada pengguna kendaraan berat. Keputusan ini merupakan bagian dari paket stimulus yang dirancang untuk menjaga kelancaran sektor logistik dan distribusi barang.
Langkah-langkah darurat ini, sebagaimana disampaikan oleh Perdana Menteri Anthony Albanese, akan diberlakukan dalam periode waktu terbatas, yaitu selama tiga bulan ke depan. Periode ini diharapkan cukup untuk menstabilkan gejolak harga sebelum evaluasi lebih lanjut dilakukan.
Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Canberra, Perdana Menteri Anthony Albanese menyampaikan rincian mengenai pemangkasan pajak yang disetujui oleh kabinetnya. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai analisis dampak ekonomi jangka pendek dan menengah.
Anthony Albanese menggarisbawahi bahwa keputusan krusial ini adalah memangkas separuh cukai bahan bakar yang berlaku untuk bensin dan solar di seluruh negeri. Keputusan ini diharapkan mampu memberikan bantalan fiskal yang signifikan bagi rumah tangga dan pelaku usaha.
"Keputusan untuk memangkas separuh cukai bahan bakar untuk bensin dan solar adalah respons langsung terhadap situasi global," ujar Perdana Menteri Anthony Albanese.
Dampak langsung dari kebijakan pemotongan cukai ini diperkirakan akan sangat terasa pada harga jual eceran di stasiun pengisian bahan bakar. Diperkirakan kebijakan ini akan menurunkan harga BBM sekitar 26,3 sen dolar Australia per liter bagi konsumen, dilansir dari BISNISMARKET.COM.
Langkah drastis Australia ini juga dilihat sebagai sinyal bagi negara-negara tetangga di kawasan tersebut untuk mulai mempertimbangkan respons kebijakan serupa dalam menghadapi volatilitas harga energi dunia saat ini.
