JABARONLINE.COM - Ketahanan sektor ritel di Indonesia kembali diuji oleh dinamika geopolitik global yang sedang memanas, khususnya konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Perkembangan internasional ini sering kali dikhawatirkan dapat merembet dan memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
Namun, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memberikan pandangan yang menenangkan bagi para pelaku usaha dan konsumen. Mereka menilai bahwa gejolak eksternal tersebut belum terasa dampaknya secara substansial pada operasional bisnis pusat perbelanjaan.
Situasi ini menunjukkan bahwa sektor konsumsi domestik Indonesia masih memiliki bantalan yang cukup kuat menghadapi guncangan eksternal berskala besar. Meskipun demikian, asosiasi terus melakukan pemantauan ketat terhadap setiap perkembangan yang terjadi.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) APPBI, Alphonzus Widjaja, menyampaikan langsung hasil evaluasi terkini mengenai kondisi industri. Penilaian ini menjadi acuan penting bagi proyeksi kinerja ritel ke depan.
"Sampai dengan saat ini perang di Timur Tengah masih belum berdampak secara signifikan terhadap industri usaha ritel di Indonesia," kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) APPBI, Alphonzus Widjaja kepada Beritasatu.com pada Senin (16/3/2026).
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa rantai pasok dan tingkat kepercayaan konsumen di dalam negeri relatif terjaga. Belum adanya dampak signifikan ini menjadi kabar baik bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Dilansir dari Beritasatu.com, respons positif ini muncul setelah adanya kekhawatiran luas mengenai potensi kenaikan harga komoditas atau gangguan logistik akibat konflik geopolitik. Sektor mal dan ritel menjadi salah satu indikator penting kesehatan daya beli masyarakat.
APPBI menekankan pentingnya menjaga stabilitas internal sektor ritel agar dapat menyerap potensi guncangan di masa mendatang. Pemantauan terhadap inflasi dan ketersediaan barang tetap menjadi prioritas utama mereka.
