Kehadiran manusia di muka bumi bukanlah sebuah peristiwa tanpa makna atau sekadar kebetulan kosmik semata. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merancang eksistensi kita dengan tujuan yang sangat mulia dan terarah secara tunggal. Memahami hakikat ini menjadi langkah awal bagi setiap Muslim untuk menemukan ketenangan batin serta arah hidup yang benar.
Setiap potensi yang kita miliki, mulai dari akal pikiran hingga panca indera, merupakan perangkat pendukung untuk menjalankan misi utama. Seluruh fasilitas kehidupan ini diberikan bukan hanya untuk kesenangan duniawi, melainkan sebagai sarana pengabdian mutlak kepada Sang Khaliq. Dengan orientasi yang tepat, setiap aktivitas keseharian kita dapat bernilai ibadah yang tinggi di sisi Allah.
Landasan utama mengenai tujuan penciptaan ini tertuang dengan sangat jelas dalam Al-Quran melalui firman Allah yang agung. Ayat ini menjadi pilar fundamental dalam membangun pemahaman mengenai posisi hamba di hadapan Penciptanya dalam perspektif Islam. Berikut adalah penegasan Allah Ta'ala dalam Al-Quran yang menjadi rujukan utama para mufassir:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Terjemahan: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)
Para ulama mufassir dengan perspektif manhaj salaf menekankan bahwa ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Pengabdian mutlak ini mengharuskan seorang hamba untuk senantiasa menyelaraskan kehendak pribadinya dengan syariat yang telah ditetapkan. Melalui pemahaman ini, seorang Muslim akan menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah sepenuhnya dan akan kembali kepada-Nya.
Dalam kehidupan modern, penerapan konsep ubudiyah ini dapat diwujudkan melalui niat yang ikhlas dalam setiap pekerjaan dan karya. Setiap langkah kaki dan jerih payah kita harus diniatkan untuk mencari keridhaan Allah agar tidak menjadi sia-sia di akhirat kelak. Dengan demikian, rutinitas duniawi yang kita jalani tidak akan melalaikan kita dari tujuan akhir yang jauh lebih abadi.
Menyadari hakikat penciptaan akan membawa seseorang pada tingkat keimanan yang lebih kokoh, tenang, dan jauh lebih bermakna. Kesadaran ini menjadi kompas spiritual yang menjaga kita agar tetap istiqamah di tengah hiruk-pikuk godaan dunia yang fana. Mari kita jadikan setiap helai napas sebagai bentuk syukur dan pengabdian yang tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)
