JABARONLINE.COM - Lonjakan harga komoditas energi global terlihat pada perdagangan awal sesi Asia hari Kamis, 5 Maret 2026. Penguatan ini terjadi karena meningkatnya sentimen ketidakpastian yang menyelimuti pasar minyak dunia. Kenaikan hampir mencapai ambang batas dua persen, menunjukkan reaksi kuat investor terhadap dinamika geopolitik terbaru.
Secara spesifik, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan apresiasi yang cukup berarti sepanjang sesi pagi tersebut. Data menunjukkan bahwa WTI berhasil naik sebesar 1,86 persen dari penutupan hari sebelumnya yang sempat bertahan di level US$ 74,66 per barel. Kenaikan ini mencerminkan premi risiko yang kini dibebankan oleh pasar global.
Apresiasi harga ini dipicu oleh membayangnya potensi gangguan serius terhadap rantai pasokan energi yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Konflik yang tengah memanas di wilayah tersebut menjadi katalis utama yang membuat para pelaku pasar waspada terhadap ketersediaan minyak mentah di masa mendatang. Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan mendorong aksi buying agresif.
Mengutip laporan dari CNA pada pukul 07.10 waktu Singapura atau sekitar 23.10 GMT, pergerakan harga WTI menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Harga acuan tersebut berhasil mencapai level US$ 76,05 per barel pada saat pemantauan dilakukan. Angka ini mengonfirmasi sentimen bearish yang mulai berbalik menjadi bullish akibat faktor risiko geopolitik.
Dampak langsung dari kenaikan ini tentu akan terasa pada berbagai sektor industri yang sangat bergantung pada energi fosil. Kenaikan hampir 2% ini berpotensi memicu kenaikan biaya produksi dan logistik di banyak negara, termasuk Indonesia. Pasar energi global tengah memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dengan sangat ketat.
Pergerakan harga minyak mentah ini menunjukkan betapa rentannya pasar terhadap ketegangan geopolitik yang terjadi di zona penghasil energi utama dunia. Harga penutupan hari sebelumnya, yakni US$ 74,66 per barel, kini tampak menjadi titik rendah sebelum terjadi lonjakan substansial pada hari Kamis ini. Kondisi ini menuntut pemantauan berkelanjutan dari otoritas energi.
Kesimpulannya, dinamika kawasan Timur Tengah kembali menjadi penentu arah harga minyak dunia pada Kamis pagi ini. Dengan WTI yang menembus angka US$ 76,05 per barel, pasar mengirimkan sinyal jelas mengenai sensitivitas mereka terhadap isu keamanan pasokan. Investor kini bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
