JABARONLINE.COM - Sebuah unggahan video telah menyebar luas di berbagai platform media sosial belakangan ini, memicu diskusi publik yang signifikan. Video tersebut secara spesifik menarasikan klaim mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto.

Klaim utama dalam video yang beredar tersebut adalah adanya pengumuman resmi dari Presiden Prabowo Subianto. Pengumuman ini dikabarkan mengenai rencana pemerintah untuk menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat.

Informasi yang disebarkan menyebutkan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk program THR ini sangat besar, yakni mencapai nominal Rp 20 triliun. Lebih lanjut, sumber dana yang disebutkan dalam narasi video tersebut berasal dari hasil rampasan harta para koruptor.

Menyikapi maraknya peredaran informasi tersebut, proses verifikasi fakta segera dilakukan untuk memastikan kebenarannya. Langkah pertama dalam pengecekan adalah menelusuri akun media sosial resmi milik Presiden Prabowo Subianto.

Hasil penelusuran awal menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya informasi valid mengenai pemberian THR dengan anggaran Rp 20 triliun. Secara khusus, tidak ada unggahan atau pernyataan resmi di akun Facebook Prabowo yang mendukung narasi tersebut.

Pengecekan lebih lanjut dilakukan menggunakan alat bantu verifikasi untuk melacak sumber dan keaslian konten video yang beredar. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah video tersebut merupakan konten manipulatif atau asli.

"Saat dicek, di akun Facebook Prabowo tidak ditemukan informasi valid pemberian THR dengan anggaran Rp 20 triliun yang diambil dari rampasan harta koruptor," demikian hasil verifikasi awal yang ditemukan.

Pemeriksaan menggunakan alat seperti Hive juga turut dilaksanakan untuk menganalisis metadata dan konteks penyebaran video tersebut. Hal ini merupakan prosedur standar dalam rangka membongkar informasi yang berpotensi menyesatkan publik.

Kesimpulannya, konten video yang mengaitkan Presiden Prabowo Subianto dengan janji THR Rp 20 triliun dari dana koruptor tersebut terindikasi kuat sebagai hoaks atau konten manipulatif. Masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati terhadap informasi yang belum terverifikasi.