JABARONLINE.COM - Situasi pasar energi global kembali menunjukkan ketidakpastian menyusul meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sebagai respons cepat, Badan Energi Internasional (IEA) mengambil langkah signifikan dengan mengumumkan pelepasan minyak dari cadangan darurat.
Langkah intervensi ini melibatkan pelepasan volume besar minyak mentah sebanyak 400 juta barel dari cadangan negara-negara anggotanya. Keputusan ini diambil untuk meredam potensi kenaikan harga yang dipicu oleh ketidakstabilan pasokan global.
Namun, para ekonom dan analis komoditas memberikan pandangan skeptis mengenai dampak jangka panjang dari jurus IEA tersebut. Nilai intervensi ini diperkirakan setara dengan sekitar Rp 6 triliun, namun dinilai hanya memberikan kelegaan sesaat.
Intervensi ini dinilai lebih berfungsi sebagai penahan sementara ketimbang solusi fundamental atas permasalahan kenaikan harga minyak dunia. Kekhawatiran muncul mengenai apakah langkah ini cukup membendung potensi lonjakan harga yang sempat diperingatkan oleh Iran hingga mencapai US$200 per barel.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan pandangannya mengenai skala operasi yang dilakukan oleh IEA. Menurutnya, ini merupakan langkah pelepasan terbesar yang pernah dilakukan oleh organisasi tersebut dalam sejarahnya.
"Artinya, langkah IEA lebih tepat dibaca sebagai bantalan darurat untuk membeli waktu, bukan solusi satu-satunya yang bisa mengakhiri lonjakan harga minyak," ujar Josua Pardede, dilansir dari Bloomberg Technoz (15/3).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meskipun jumlah 400 juta barel sangat besar, sifatnya hanyalah penanggulangan krisis jangka pendek. Pasar menunggu langkah konkret lain jika ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut tanpa resolusi.
Analis menekankan bahwa faktor fundamental permintaan dan penawaran, ditambah risiko geopolitik, masih menjadi penentu utama pergerakan harga minyak di masa mendatang. Intervensi pasokan darurat hanya menunda volatilitas yang lebih besar.
Jika dinamika geopolitik tidak mereda, potensi harga minyak dunia kembali menanjak tajam tetap terbuka lebar. Hal ini akan berdampak langsung pada biaya energi dan inflasi di banyak negara konsumen minyak.
