JABARONLINE.COM - Lampu neon di kafe tempatku bekerja dulu terasa menusuk mata, memantulkan bayangan diriku yang masih terlalu rapuh untuk menggenggam dunia. Aku ingat betul aroma kopi pahit yang selalu menemani malam-malam panjangku saat mencoba memahami mengapa rencana selalu berkhianat.
Dulu, kedewasaan bagiku hanyalah tentang mampu membayar tagihan sendiri; sebuah pencapaian permukaan yang dangkal. Aku mengejar validasi dari luar, layaknya anak kecil yang haus pujian atas setiap langkah kecil yang diambilnya.
Titik baliknya datang bukan dalam bentuk kemenangan besar, melainkan dalam keheningan setelah kehilangan yang tak terduga. Saat semua topeng jatuh, aku dipaksa berhadapan langsung dengan kekosongan yang selama ini kucoba isi dengan kesibukan.
Di masa perenungan yang panjang itulah aku mulai membaca lembaran demi lembaran dari Novel kehidupan yang selama ini kukira sudah selesai aku tulis. Ternyata, bab-bab tertebal justru baru dimulai.
Aku belajar bahwa kedewasaan sejati adalah kemampuan untuk merasa sakit tanpa perlu menunjukkannya, dan berani bertanggung jawab atas retakan yang kubuat di hati orang lain. Itu adalah beban yang berat, namun membersihkan jiwa.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa empati bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata menopang bahu mereka yang juga sedang tersandung di tikungan yang sama. Aku mulai mengerti arti memberi tanpa mengharapkan imbalan.
Kini, setiap kerutan di dahi dan bekas luka kecil di telapak tangan terasa seperti tanda jasa yang tak ternilai harganya. Mereka adalah peta yang menunjukkan seberapa jauh aku telah berjalan menjauhi ketakutan masa mudaku.
Aku tidak lagi takut pada ketidaksempurnaan; aku merangkulnya sebagai bagian integral dari narasi yang sedang berlangsung ini. Sebab, setiap kegagalan adalah tinta baru yang memperkaya alur cerita.
Lantas, jika babak ini telah mengajarkanku cara berdiri tegak di tengah badai, babak apa lagi yang sedang menunggu di balik cakrawala yang samar itu, dan seberapa besar harga yang harus kubayar untuk setiap kebijaksanaan yang tersisa?
