JABARONLINE.COM - Hujan sore itu tidak hanya membasahi bumi, tetapi juga meluruhkan ego masa mudaku yang selama ini merasa paling benar. Aku berdiri di depan pintu rumah yang kini terasa asing, membawa beban yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Kehilangan bukan sekadar tentang perpisahan, melainkan tentang bagaimana kita tetap berdiri saat kaki tak lagi memiliki tumpuan. Ayah pergi tanpa kata, meninggalkan tumpukan tanggung jawab yang harus kupikul sendirian di pundak yang masih rapuh ini.
Setiap lembar hari yang kulewati kini terasa seperti bab-bab dalam sebuah novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga. Aku belajar bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara jiwa membersihkan diri dari debu-debu kesombongan.
Dahulu, aku hanya peduli pada kesenangan pribadi dan bagaimana dunia harus berputar sesuai dengan keinginanku. Namun, melihat guratan lelah di wajah ibu membuatku sadar bahwa hidup adalah tentang memberi, bukan sekadar menuntut.
Aku mulai mengambil pekerjaan apa saja yang halal, mengabaikan gengsi yang selama ini kubanggakan di depan teman-teman sebaya. Rasa lelah yang menusuk tulang justru menjadi pengingat bahwa setiap peluh adalah bukti perjuangan untuk bertahan hidup.
Kedewasaan ternyata tidak datang melalui pertambahan usia, melainkan melalui keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit tanpa melarikan diri. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku sering merenungkan betapa banyak waktu yang kusia-siakan untuk hal-hal remeh.
Teman-teman lamaku perlahan menghilang saat aku tak lagi mampu mengikuti gaya hidup mereka yang serba mewah dan semu. Namun, kesunyian itu justru memberiku ruang untuk mendengar suara hatiku sendiri yang selama ini tenggelam dalam kebisingan.
Kini, aku memandang cermin dan melihat sosok yang berbeda; seseorang yang memiliki sorot mata tajam namun penuh dengan empati. Aku menyadari bahwa luka-luka masa lalu adalah medali kehormatan yang membentuk karakterku menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Perjalanan ini belum berakhir, namun aku telah menemukan kunci untuk membuka pintu kedamaian di tengah badai yang belum reda. Sebab, pada akhirnya, kedewasaan adalah tentang bagaimana kita memilih untuk tetap mencintai hidup meski ia seringkali tidak adil.
