Dunia yang kukenal selalu beraroma vanilla dan janji-janji manis masa depan yang tertata rapi. Aku adalah pemimpi yang nyaman, hidup dalam lindungan dinding yang dibangun orang tua. Semua berubah ketika surat itu datang, membawa kabar buruk yang meruntuhkan menara kestabilanku dalam semalam.
Tiba-tiba, aku didorong ke tepi jurang tanggung jawab yang sama sekali asing. Aku harus mengambil alih kebun kopi keluarga di pelosok desa, sebuah tempat yang hanya kukunjungi saat liburan singkat. Beban itu terasa mencekik; bagaimana mungkin tangan yang terbiasa memegang pena kini harus bersentuhan langsung dengan lumpur dan perhitungan untung rugi? Awalnya adalah rangkaian kegagalan yang memalukan. Aku membenci matahari yang menyengat, membenci tatapan skeptis para pekerja senior, dan terutama membenci diriku yang begitu rapuh. Ada malam-malam di mana aku menangis di bawah selimut, merindukan kemudahan hidup lama, siap untuk menyerah dan kembali ke kota.
Namun, air mata itu perlahan mengering, digantikan oleh bara api keras kepala yang mendesakku untuk bertahan. Aku sadar, lari bukanlah pilihan; ini adalah kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa aku bukan sekadar bayangan dari ekspektasi orang lain. Aku mulai membaca, bertanya, dan turun langsung ke ladang, membiarkan tanah mengajarkan bahasa ketekunan.
Setiap benih yang kutanam, setiap batang yang kupangkas, adalah terapi yang menyakitkan namun jujur. Aku belajar bahwa kedewasaan bukan tentang usia, melainkan tentang kemampuan berdiri tegak setelah badai merobohkan segalanya. Rasa takutku tidak hilang, tetapi ia kini berjalan di sampingku, bukan di depanku.
Momen-momen di kebun itu, di bawah langit yang luas dan kejam, adalah lembaran-lembaran terbaik dari sebuah buku besar. Aku menyadari bahwa kisah yang sedang kujalani ini adalah Novel kehidupan yang paling otentik, di mana aku harus menulis sendiri bab-bab keberanian dan pengorbanan.
Aku mulai melihat kebun kopi bukan sebagai beban, melainkan sebagai cerminan diriku. Ia membutuhkan perawatan, kesabaran, dan pemahaman yang mendalam. Sama seperti diriku yang butuh waktu untuk memahami bahwa kerapuhan masa lalu adalah pupuk untuk kekuatan masa depan.
Ketika panen pertama yang sukses tiba, bukan kegembiraan finansial yang membanjiri, melainkan rasa damai yang mendalam. Aku melihat tanganku yang kasar, penuh bekas luka, dan menyadari bahwa setiap guratan adalah peta menuju diriku yang lebih dewasa dan utuh.
Kini, aku berdiri di tengah kebun ini, bukan lagi sebagai gadis manja dari kota, melainkan sebagai seseorang yang telah dicetak ulang oleh kesulitan. Aku belajar bahwa terkadang, Tuhan harus menghilangkan semua yang kita kenal agar kita bisa menemukan siapa kita sebenarnya, dan perjalanan ini baru saja dimulai.
.png)
.png)
