JABARONLINE.COM - Senja itu, aroma tanah basah setelah hujan selalu menjadi saksi bisu kegelisahanku yang tak terperi. Aku berdiri di tepi dermaga kayu yang reyot, memandang riak air yang membawa pergi mimpi-mimpi masa remaja yang terlalu naif.
Dulu, dunia terasa seperti kanvas kosong yang bisa kuwarnai sesuka hati, tanpa memikirkan bayangan hitam yang mungkin muncul dari sapuan kuas yang terburu-buru. Aku terlalu fokus pada garis finish tanpa menikmati proses pendakian yang sesungguhnya.
Pelajaran pertama datang dalam bentuk kehilangan, sebuah badai tak terduga yang merenggut jangkar kenyamananku. Rasanya seperti seluruh fondasi yang kubangun runtuh dalam sekejap mata, menyisakan puing-puing kebingungan.
Di tengah reruntuhan itu, aku mulai membaca ulang bab-bab yang terlewat dalam buku besar yang kita sebut Novel kehidupan. Aku menyadari bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan pupuk yang menyuburkan akar keteguhan.
Perlahan, aku belajar memilah mana pujian yang tulus dan mana kritik yang hanya bersembunyi di balik topeng kepedulian. Kedewasaan mengajarkan bahwa validasi terbesar harus datang dari cermin di hadapanku sendiri.
Ada masa di mana aku mencoba menjadi semua orang, menyenangkan semua pihak, hingga akhirnya aku hampir kehilangan suara asliku dalam riuh tepuk tangan yang palsu. Itu adalah kesalahan fatal yang mahal harganya.
Kini, setiap langkah terasa lebih berat namun pijakannya lebih mantap; aku bukan lagi mencari validasi, melainkan mencari makna di setiap luka yang berhasil kusembuhkan. Proses ini membentukku menjadi versi yang lebih utuh.
Pengalaman pahit itu kini menjadi tinta emas yang mengukir narasi paling berharga dalam perjalanan eksistensiku, sebuah babak yang tak akan pernah bisa dihapus dari lembaran takdir.
Lalu, ketika aku menoleh ke belakang, melihat bayangan diriku yang dulu menangis di dermaga itu, aku tersenyum—karena aku tahu, petualangan sesungguhnya baru saja dimulai ketika aku berhenti berharap cerita ini akan selalu bahagia.
