JABARONLINE.COM - Suasana pasar energi di Singapura pada Senin (16/3/2026) tampak diwarnai oleh kekhawatiran yang mendalam. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki pekan ketiga. Kondisi ini memberikan tekanan besar pada stabilitas pasokan energi di tingkat global.
"Situasi ini meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi serta menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pasokan minyak global," dilansir dari Beritasatu.com.
Kekhawatiran akan terganggunya jalur logistik vital tersebut langsung direspons oleh pasar dengan kenaikan harga yang signifikan. Para investor mulai mengantisipasi kemungkinan adanya gangguan distribusi dalam waktu dekat.
Harga minyak mentah Brent mencatatkan lonjakan sebesar US$ 2,01 atau setara dengan 1,95 persen. Pergerakan ini membawa harga Brent menyentuh level US$ 105,15 per barel pada sesi perdagangan hari ini.
Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari tren penguatan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya, harga Brent juga telah mengalami kenaikan sebesar US$ 2,68.
Tidak hanya Brent, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga menunjukkan tren serupa. Harga komoditas ini merangkak naik sebesar US$ 1,61 atau sekitar 1,63 persen.
Saat ini, harga WTI berada di posisi US$ 100,32 per barel. Padahal, pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah Amerika Serikat ini sudah sempat menguat hingga hampir US$ 3.
Laporan situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap isu keamanan internasional. Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial yang paling diperhatikan oleh para pedagang minyak di seluruh dunia.
