JABARONLINE.COM - Pergerakan harga logam mulia pada awal pekan ini menunjukkan dinamika yang menarik antara dua komoditas utama, yaitu emas dan perak yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang (Antam). Meskipun harga emas terpantau mengalami pelemahan, perak justru berhasil mencatatkan apresiasi yang patut diperhatikan oleh para investor.
Perubahan harga ini terjadi pada hari Senin, tanggal 16 Maret 2026, menandakan adanya divergensi pergerakan di pasar logam mulia domestik. Investor perlu mencermati tren ini untuk menentukan strategi investasi jangka pendek maupun panjang mereka.
Berdasarkan data resmi yang dipublikasikan melalui laman resmi Logam Mulia, kenaikan harga perak Antam cukup substansial untuk diperhitungkan. Kenaikan ini memberikan sinyal positif bagi pemegang aset perak saat itu.
Secara spesifik, harga perak tercatat mengalami peningkatan sebesar Rp 350 per gram pada perdagangan hari tersebut. Angka ini mengubah patokan harga jual di tingkat konsumen maupun distributor.
Harga perak Antam sebelumnya berada di posisi Rp 50.850 per gram sebelum mengalami penyesuaian ke atas. Kenaikan ini mencerminkan permintaan atau faktor pasar lain yang mendukung apresiasi logam putih tersebut.
"Harga perak Antam naik Rp 350 menjadi Rp 51.200 per gram dari sebelumnya Rp 50.850 per gram," demikian informasi yang tertera mengenai pergerakan harga perak pada hari tersebut, dilansir dari laman Logam Mulia.
Perkembangan ini sangat kontras dengan kondisi yang dialami oleh emas Antam pada hari yang sama. Pasar cenderung menunjukkan sentimen yang berbeda terhadap kedua logam mulia tersebut dalam sesi perdagangan tersebut.
Informasi mengenai kenaikan harga perak ini sangat krusial bagi pelaku pasar yang memantau setiap fluktuasi harga logam mulia dari Antam. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam diversifikasi portofolio investasi.
Para analis pasar disarankan untuk menelusuri lebih lanjut faktor-faktor global yang mungkin memengaruhi mengapa perak menguat sementara emas justru mengalami koreksi harga pada Senin (16/3/2026).
