JABARONLINE.COM - Gelombang serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap wilayah Iran telah mengakibatkan peningkatan signifikan dalam jumlah korban jiwa. Otoritas di Teheran secara resmi mengumumkan bahwa korban tewas akibat eskalasi konflik ini telah melampaui angka delapan ratus enam puluh tujuh orang.
Perhitungan korban ini terus bergerak naik seiring dengan berlanjutnya operasi militer kedua negara adidaya tersebut di berbagai titik strategis Iran. Kenaikan angka kematian ini menggarisbawahi intensitas dan cakupan luas dari aksi militer yang terjadi sejak serangan pertama dilancarkan pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat.
Data terbaru mengenai jumlah korban tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan resmi pemerintah Iran kepada publik. Perkembangan situasi ini menunjukkan bahwa dampak langsung dari serangan tersebut sangat parah dan meluas di seluruh wilayah yang menjadi sasaran bombardir.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menjadi pihak yang mengonfirmasi peningkatan dramatis dalam catatan kematian tersebut. Beliau menegaskan bahwa data korban akan terus diperbarui seiring dengan upaya pencarian dan pengevakuasian yang masih berlangsung di lokasi-lokasi terdampak.
Selain korban jiwa yang tragis, serangan beruntun ini juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar bagi masyarakat Iran secara umum. Ribuan warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang menghantam berbagai infrastruktur vital negara tersebut.
Menurut laporan yang dilansir oleh Anadolu Agency pada hari Kamis, 5 Maret 2026, situasi kemanusiaan di lapangan semakin memprihatinkan. Jumlah korban luka-luka yang masif ini memerlukan penanganan medis segera dan dukungan logistik yang memadai dari pemerintah pusat.
Dengan terus berlanjutnya konfrontasi militer ini, Teheran mengantisipasi bahwa angka korban jiwa dan luka-luka akan terus bertambah dalam beberapa waktu ke depan. Situasi ini menyoroti krisis kemanusiaan yang mendalam akibat konfrontasi militer antara Iran dengan koalisi AS-Israel.
