JABARONLINE.COM - Pasar ekuitas Amerika Serikat, Wall Street, kembali mencatatkan penurunan signifikan pada penutupan perdagangan hari Kamis. Pelemahan ini terjadi sebagai respons langsung terhadap pergerakan harga komoditas energi global.

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang berhasil melampaui angka psikologis US$100 per barel menjadi pemicu utama sentimen negatif investor. Lonjakan ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan potensi perlambatan ekonomi.

Pergerakan indeks-indeks utama di bursa New York menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat sepanjang sesi perdagangan tersebut. Investor tampaknya tengah melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko kenaikan biaya energi.

Dilansir dari AP, indeks S&P 500 menjadi salah satu yang terpukul cukup dalam akibat dinamika pasar energi saat itu. Penurunan yang tercatat cukup signifikan menunjukkan luasnya dampak koreksi ini.

Secara spesifik, kinerja S&P 500 pada hari Kamis, 12 Maret 2026, terkoreksi hingga mencapai 1,5% dari penutupan sebelumnya. Angka ini mengindikasikan pelemahan di berbagai sektor kapitalisasi pasar.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average juga menunjukkan performa yang kurang memuaskan di tengah tekanan tersebut. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang meluas di kalangan saham-saham unggulan industri.

Indeks Dow Jones Industrial Average dilaporkan melemah sebesar 1,6% pada penutupan hari Kamis, 12 Maret 2026. Penurunan ini menambah daftar kekhawatiran mengenai prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Teknologi dan sektor pertumbuhan juga tidak luput dari dampak negatif ini, terlihat dari kinerja indeks komposit utama yang berorientasi pada teknologi. Nasdaq Composite menunjukkan penurunan paling curam di antara indeks-indeks utama lainnya.

"Indeks Nasdaq Composite dilaporkan mengalami penurunan hingga mencapai 1,8% pada hari Kamis (12/3/2026)," demikian dikutip dari AP. Penurunan ini menggarisbawahi sensitivitas sektor teknologi terhadap lonjakan biaya input energi.