Dalam diskursus keislaman kontemporer, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Allah, melainkan sebuah paradigma eksistensial yang mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan manusia. Di tengah arus modernitas yang sering kali mengagungkan materialisme dan sekularisme, menjaga kemurnian tauhid menjadi tantangan intelektual sekaligus spiritual yang sangat berat. Tauhid berfungsi sebagai kompas moral yang menjaga integritas jiwa dari fragmentasi nilai yang terjadi akibat peradaban yang menjauh dari wahyu. Tanpa landasan tauhid yang kokoh, manusia modern rentan terjebak dalam penghambaan kepada entitas-entitas baru, baik itu berupa ideologi, teknologi, maupun pemuasan hawa nafsu yang tak terbatas. Oleh karena itu, mari kita bedah dasar-dasar tauhid melalui kacamata teks suci yang otoritatif.

Pondasi utama dalam memahami tauhid adalah penyerahan totalitas hidup dan mati hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini mencakup seluruh aspek ibadah, baik yang bersifat ritual (mahdhah) maupun sosial (ghairu mahdhah). Dalam konteks modern, hal ini berarti setiap tindakan profesional, sosial, dan pribadi harus memiliki orientasi ketuhanan agar tidak kehilangan makna eksistensialnya. Perhatikan firman Allah dalam Surah Al-An'am ayat 162 berikut ini:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ