Dalam diskursus keislaman, tauhid bukan sekadar konsep teologis yang bersifat statis, melainkan merupakan fondasi ontologis yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan seorang Muslim. Di tengah gempuran modernitas yang membawa arus materialisme, sekularisme, dan hedonisme, esensi tauhid seringkali mengalami pengikisan secara subliminal. Menjaga kemurnian tauhid di zaman ini menuntut pemahaman yang komprehensif terhadap teks-teks wahyu agar seorang hamba tidak terjebak dalam penyembahan terhadap berhala-berhala modern, baik itu berupa ideologi, harta, maupun jabatan. Kehidupan modern yang serba cepat seringkali menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya, sehingga refleksi mendalam terhadap ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah menjadi sebuah keniscayaan yang mendesak.
Tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat harus terintegrasi dalam kesadaran batiniah yang termanifestasi dalam tindakan lahiriah. Tanpa pondasi tauhid yang kokoh, manusia akan kehilangan arah dalam labirin kompleksitas duniawi. Oleh karena itu, mari kita bedah dasar-dasar argumentasi wahyu yang menjadi kompas bagi setiap mukmin dalam mengarungi tantangan zaman.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
.png)
.png)