Dalam diskursus keislaman kontemporer, tantangan terbesar yang dihadapi oleh seorang mukmin bukan sekadar serangan pemikiran eksternal, melainkan pengikisan esensi ketauhidan dalam relung jiwa akibat dominasi materialisme. Modernitas dengan segala perangkat teknologinya seringkali menggiring manusia pada bentuk-bentuk syirik kontemporer yang halus, di mana ketergantungan pada sebab-sebab materi mengalahkan keyakinan pada Sang Musabbibul Asbab. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Tuhan, melainkan sebuah komitmen ontologis yang mendasari seluruh gerak eksistensi manusia. Tanpa tauhid yang kokoh, manusia modern akan terjebak dalam krisis makna dan alienasi spiritual yang akut. Oleh karena itu, membedah kembali pilar-pilar tauhid melalui kacamata wahyu menjadi sebuah keniscayaan ilmiah dan amaliyah.
Tauhid dimulai dengan pemurnian orientasi ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan distraksi, menjaga fokus hati agar tetap tertuju pada Sang Khalik adalah perjuangan yang paling mendasar. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah yang menjadi inti dari setiap shalat kita:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)