Kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya membawa tantangan yang tidak ringan bagi integritas keimanan seorang Muslim. Fenomena materialisme, sekularisme, dan pemujaan terhadap teknologi seringkali mengaburkan batas antara ketergantungan kepada Sang Pencipta dengan ketergantungan kepada makhluk. Tauhid, sebagai fondasi utama dalam Islam, bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Allah, melainkan sebuah orientasi hidup yang menyeluruh yang mencakup dimensi rububiyah, uluhiyah, serta asma wa shifat. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global, kemurnian tauhid menjadi satu-satunya jangkar yang mampu menjaga stabilitas spiritual manusia agar tidak terombang-ambing oleh ideologi yang menjauhkan hamba dari Tuhannya. Para ulama salaf senantiasa menekankan bahwa setiap detak jantung dan langkah kaki seorang mukmin haruslah didasarkan pada kesadaran penuh bahwa tidak ada otoritas tertinggi selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.