Kehadiran teknologi digital telah mengubah lanskap penyebaran nilai-nilai agama secara fundamental. Bagi Generasi Z, agama tidak lagi hanya ditemukan di surau atau pesantren, melainkan hadir dalam genggaman melalui potongan video pendek dan utas di media sosial. Fenomena ini membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi para penggiat dakwah. Di satu sisi, pesan-pesan langit kini lebih mudah menjangkau mereka yang haus akan spiritualitas. Namun di sisi lain, kita menyaksikan adanya simplifikasi ajaran agama yang berisiko mengaburkan kedalaman makna dan esensi dari ajaran Islam itu sendiri.
Tantangan utama yang kita hadapi adalah kecepatan informasi yang sering kali mengorbankan ketelitian. Dakwah digital cenderung dikemas dalam durasi yang sangat singkat demi mengejar algoritma dan atensi penonton. Akibatnya, isu-isu fikih yang kompleks atau pemikiran teologis yang mendalam sering kali disederhanakan secara berlebihan. Hal ini berisiko melahirkan pemahaman agama yang hitam-putih dan kurang toleran terhadap perbedaan pendapat. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak, sebagaimana firman Allah SWT:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)