Dunia hari ini tidak lagi dibatasi oleh dinding-dinding masjid atau sekat-sekat ruang kelas pesantren. Mimbar dakwah telah berpindah ke layar gawai, di mana pesan-pesan agama bersaing ketat dengan tren hiburan yang fana. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, berada di titik pusaran ini. Mereka mendapatkan akses ilmu yang melimpah, namun di saat yang sama, mereka menghadapi tantangan berupa pendangkalan makna dan hilangnya adab dalam berinteraksi. Dakwah bukan lagi sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan bagaimana menjaga agar kebenaran itu tidak tergerus oleh arus algoritma yang seringkali lebih memihak pada sensasi daripada substansi.
Tantangan terbesar dalam dakwah digital saat ini adalah fenomena informasi instan. Agama seringkali disajikan dalam potongan video pendek berdurasi lima belas detik yang rawan salah tafsir. Tanpa bimbingan guru yang otoritatif, Generasi Z berisiko menelan mentah-mentah pemahaman yang parsial. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya ketelitian dalam menerima informasi agar tidak terjerumus dalam fitnah. Hal ini sejalan dengan peringatan Allah dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)