Kehadiran teknologi digital telah mengubah wajah dakwah dari mimbar-mimbar fisik menuju layar gawai yang serba cepat. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, kini menjadi sasaran utama sekaligus aktor dalam penyebaran pesan-pesan keagamaan. Namun, di balik kemudahan akses ini, muncul tantangan besar mengenai bagaimana menjaga kedalaman makna agama agar tidak tergerus oleh budaya instan dan algoritma yang sering kali lebih mengutamakan sensasi daripada substansi. Dakwah bukan sekadar memindahkan teks suci ke dalam video berdurasi singkat, melainkan proses transformasi batin yang memerlukan keteladanan dan kesabaran.

Tantangan pertama yang kita hadapi adalah banjir informasi yang membuat batas antara kebenaran dan hoaks menjadi kabur. Di sinilah prinsip tabayyun atau verifikasi informasi menjadi sangat krusial agar umat tidak mudah terprovokasi oleh konten yang memecah belah. Allah SWT telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur'an mengenai pentingnya memeriksa setiap kabar yang sampai kepada kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا