JABARONLINE.COM - Langit sore itu seolah mencerminkan kekacauan di dalam dadaku yang tak kunjung reda. Aku berdiri di persimpangan jalan, menyadari bahwa duniaku yang nyaman telah runtuh seketika.

Dulu, aku mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal bertambahnya angka usia dan tinggi badan. Namun, kenyataan memaksaku menelan pil pahit tentang arti tanggung jawab yang sesungguhnya.

Kehilangan yang datang tanpa permisi mengubah cara pandangku terhadap setiap detik yang terlewati. Aku mulai belajar bahwa diam terkadang lebih bermakna daripada amarah yang meledak-ledak.

Setiap lembar hari yang kujalani terasa seperti bab-bab dalam sebuah novel kehidupan yang penuh plot tak terduga. Aku bukan lagi penonton, melainkan tokoh utama yang harus menentukan arah alurnya sendiri.

Kesalahan masa lalu tak lagi kusesali sebagai beban, melainkan kujadikan kompas untuk melangkah lebih hati-hati. Ada kekuatan yang tumbuh dari sisa-sisa kegagalan yang pernah membuatku tersungkur.

Teman-teman lama mulai menjauh seiring dengan perubahan prinsip yang kini kugenggam erat dalam jemari. Aku menyadari bahwa kesepian adalah ruang terbaik untuk berdialog dengan diri sendiri secara jujur.

Tidak ada lagi keinginan untuk membuktikan diri kepada dunia yang sering kali tidak peduli. Fokusku kini hanyalah menjadi versi terbaik bagi mereka yang masih setia berdiri di sampingku.

Luka yang dulu menganga kini telah mengering, meninggalkan bekas yang mengingatkanku akan ketangguhan jiwa. Aku belajar memaafkan keadaan, bahkan saat dunia tidak memberikan permintaan maaf yang layak.

Kedewasaan ternyata bukan tentang akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari penerimaan yang tulus. Namun, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi badai berikutnya yang mungkin lebih besar?