Kehadiran teknologi digital telah mengubah wajah mimbar dakwah dari ruang-ruang fisik yang khidmat menuju layar gawai yang serba cepat. Generasi Z, sebagai penduduk asli dunia digital, kini menjadi sasaran utama sekaligus aktor penting dalam penyebaran nilai-nilai keislaman. Namun, di balik kemudahan akses informasi ini, muncul tantangan besar mengenai bagaimana menjaga kedalaman makna agama agar tidak tergerus oleh arus instanisme. Dakwah bukan sekadar memindahkan teks suci ke dalam video pendek berdurasi tiga puluh detik, melainkan tentang bagaimana mentransfer ruh dari ajaran tersebut ke dalam sanubari manusia.
Tantangan pertama yang kita hadapi adalah kecenderungan untuk menyederhanakan persoalan agama yang kompleks demi mengejar algoritma dan popularitas. Agama seringkali ditampilkan dalam wajah yang hitam-putih, tanpa ruang untuk diskusi yang mendalam atau pemahaman konteks yang memadai. Padahal, dalam berdakwah, Islam sangat menekankan penggunaan metode yang bijaksana dan santun. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
.png)
.png)