Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang kian deras, kita seringkali terjebak dalam pusaran perdebatan yang tak berujung. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi rahmat dan sarana memperkaya khazanah intelektual, kini justru sering berubah menjadi pemantik perpecahan dan ajang saling merendahkan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam cara kita berkomunikasi, di mana ambisi untuk memenangkan argumen lebih diutamakan daripada upaya mencari kebenaran yang hakiki. Sebagai umat yang dibekali tuntunan wahyu, sudah saatnya kita merenungkan kembali sejauh mana peran akhlak dalam setiap interaksi sosial kita.

Islam memandang perbedaan sebagai keniscayaan atau sunnatullah yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan manusia. Namun, yang menjadi persoalan besar hari ini bukanlah perbedaannya, melainkan hilangnya adab dalam menyikapinya. Banyak orang merasa memiliki otoritas tunggal atas kebenaran sehingga dengan mudah melontarkan tuduhan atau kata-kata kasar kepada mereka yang berseberangan. Padahal, dakwah dan diskusi dalam Islam haruslah berlandaskan pada hikmah dan tutur kata yang baik, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Sumber: Muslimchannel