Fenomena jagat digital hari ini sering kali menampilkan panggung perdebatan yang jauh dari nilai-nilai luhur. Perbedaan pandangan, baik dalam ranah politik, keagamaan, maupun sosial, kerap berujung pada caci maki dan upaya pembunuhan karakter. Kita seolah lupa bahwa keberagaman pemikiran adalah keniscayaan yang telah diatur oleh Sang Pencipta. Kebebasan berpendapat yang tidak dibarengi dengan kematangan spiritual hanya akan melahirkan benturan ego yang merusak tatanan ukhuwah Islamiyah. Sebagai umat yang dididik dengan nilai akhlakul karimah, sudah saatnya kita mengevaluasi cara kita berinteraksi di ruang publik.

Islam tidak pernah melarang adanya perbedaan pendapat. Sejarah mencatat betapa para sahabat Nabi dan para imam mazhab memiliki spektrum pemikiran yang luas, namun mereka tetap saling memuliakan. Kuncinya terletak pada niat untuk mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan. Allah SWT telah memberikan panduan eksplisit dalam berdialog, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Sumber: Muslimchannel