Di era disrupsi informasi ini, kita sering terjebak dalam keriuhan perdebatan yang seolah tak berujung. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi justru kerap berubah menjadi medan perang kata-kata yang penuh dengan caci maki. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam cara kita berkomunikasi, di mana keinginan untuk memenangkan argumen seringkali mengalahkan semangat untuk mencari kebenaran. Padahal, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan sejarah yang tidak mungkin kita hindari dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Sayangnya, banyak dari kita yang kehilangan kendali diri saat berhadapan dengan pandangan yang berseberangan. Kritik seringkali berubah menjadi pembunuhan karakter, dan perbedaan perspektif dianggap sebagai bentuk permusuhan pribadi. Inilah tantangan besar bagi kita sebagai umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Tanpa landasan etika yang kuat, perbedaan pendapat hanya akan melahirkan fragmentasi sosial yang melemahkan sendi-sendi kebangsaan dan keagamaan kita, serta menjauhkan kita dari esensi ajaran Islam yang damai.

Islam memandang keberagaman sebagai salah satu tanda kebesaran Sang Pencipta yang harus disyukuri. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa penciptaan manusia dalam berbagai bangsa dan suku adalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling menjatuhkan atau merendahkan satu sama lain. Hal ini termaktub dengan sangat indah dalam firman-Nya:

Sumber: Muslimchannel