JABARONLINE.COM - Wacana mengenai pentingnya kedaulatan industri Indonesia kembali mengemuka dalam diskusi ekonomi terkini, di mana pemikiran mendiang Profesor Dr. Soemitro Djojohadikusumo dinilai sangat relevan. Konsep yang sering disebut sebagai 'Soemitronomics' dianggap menawarkan kerangka kerja strategis untuk membangun basis industri yang lebih kuat dan mandiri.

Para pakar ekonomi menekankan bahwa strategi pembangunan yang diusung oleh Soemitro fokus pada penciptaan nilai tambah di dalam negeri, bukan sekadar mengandalkan ekspor bahan mentah. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dari guncangan eksternal yang kerap terjadi.

Diskusi ini mencuat dalam sebuah seminar nasional yang diadakan di Jakarta pada hari Rabu, 17 April 2024, yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan industri dan akademisi. Fokus utama pembicaraan adalah bagaimana teori pembangunan masa lalu dapat diadaptasi untuk tantangan industrialisasi abad ke-21.

Salah satu poin krusial dari Soemitronomics adalah perlunya peran aktif negara dalam mengarahkan investasi strategis ke sektor-sektor yang memiliki potensi dampak pengganda (multiplier effect) besar bagi perekonomian. Hal ini bertujuan agar industri dalam negeri mampu bersaing di pasar global.

Narasumber utama dalam seminar tersebut, Dr. Budi Santoso, menegaskan bahwa fondasi pemikiran Soemitro adalah kunci utama untuk mencapai tujuan tersebut. "Soemitronomics bukan hanya teori lama, tetapi merupakan cetak biru yang teruji untuk mencapai kedaulatan industri sejati di Indonesia," ujar Dr. Budi Santoso.

Lebih lanjut, Dr. Budi menjelaskan bahwa fokus pada substitusi impor yang terarah dan pengembangan industri hulu adalah langkah vital yang harus segera diimplementasikan. Ia menekankan bahwa ketergantungan impor untuk komponen dasar industri harus diminimalisir secara bertahap.

Dalam konteks global yang semakin protektif, pentingnya memiliki industri yang mampu memenuhi kebutuhan domestik menjadi prioritas utama. Hal ini akan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap dinamika rantai pasok internasional yang rentan terhadap konflik geopolitik.

Narasumber lain, Profesor Rina Wulansari, menyoroti aspek kelembagaan yang juga disentuh oleh pemikiran Soemitro. "Penguatan kelembagaan yang mampu melakukan perencanaan jangka panjang dan implementasi kebijakan yang konsisten adalah prasyarat agar strategi industrialisasi ini berhasil," kata Profesor Rina Wulansari.

Profesor Rina menambahkan bahwa keberhasilan implementasi memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan dunia pendidikan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan adanya transfer pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teknologi industri.