Sorotan lampu panggung dan kamera kerap menyembunyikan sisi rentan kehidupan para pesohor di Indonesia. Belakangan, muncul tren positif di mana sejumlah artis papan atas mulai berani mempublikasikan pengalaman mereka mencari bantuan profesional untuk kesehatan mental.
Keterbukaan ini mencakup pengakuan terhadap perjuangan melawan depresi, kecemasan, hingga sindrom penipu (imposter syndrome). Langkah ini dianggap sebagai upaya penting untuk mendestigmatisasi isu kesehatan mental di tengah masyarakat luas.
Tingginya ekspektasi publik dan masifnya interaksi di media sosial menjadi pemicu utama meningkatnya tekanan psikologis bagi para selebriti. Mereka seringkali dihadapkan pada kritik pedas dan penilaian instan yang dapat mengikis batas privasi dan kesejahteraan diri.
Menurut psikolog klinis, pengakuan dari figur publik memiliki efek domino yang signifikan dalam edukasi masyarakat. Ketika idola mereka berbicara, masyarakat menjadi lebih mudah menerima bahwa mencari terapi bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan.
Implikasi dari tren keterbukaan ini adalah peningkatan kesadaran bahwa masalah mental dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang status atau kekayaan. Hal ini mendorong diskusi yang lebih sehat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan psikologis layaknya kesehatan fisik.
Sejumlah agensi manajemen artis kini mulai memasukkan dukungan psikologis sebagai bagian dari kontrak kerja atau fasilitas wajib bagi talenta mereka. Ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma industri hiburan yang semakin peduli terhadap kesejahteraan holistik para pekerja seni.
Keterbukaan artis mengenai perjalanan kesehatan mental mereka bukan sekadar berita sensasional, melainkan sebuah gerakan sosial yang vital. Diharapkan, keberanian ini terus menginspirasi masyarakat Indonesia untuk memprioritaskan kesehatan mental tanpa rasa malu.
.png)
.png)
