Di tengah derasnya arus modernisasi dan disrupsi digital, umat Islam dihadapkan pada tantangan iman yang semakin kompleks. Materialisme yang kian masif sering kali mengaburkan pandangan kita terhadap tujuan utama penciptaan sebagai hamba Allah. Menjaga kemurnian tauhid kini bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah perjuangan nyata dalam keseharian. Kesadaran akan kehadiran Tuhan harus tetap menjadi kompas utama agar kita tidak tersesat dalam gemerlap dunia yang semu.
Dunia modern menawarkan berbagai bentuk kesenangan yang tanpa disadari dapat menggiring manusia pada penghambaan terhadap materi. Pergeseran nilai sosial yang terjadi memaksa setiap Muslim untuk kembali menelaah fondasi tauhid berdasarkan tuntunan wahyu dan sunnah. Tauhid berfungsi sebagai poros utama yang menentukan kualitas amal ibadah serta arah kehidupan seorang hamba di dunia. Tanpa dasar tauhid yang kokoh, segala amal kebaikan yang dilakukan akan sirna bagaikan debu yang diterpa angin kencang.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Terjemahan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)
Para ulama salaf senantiasa mengingatkan bahwa inti dari keselamatan adalah memurnikan ketaatan hanya kepada Allah semata. Keikhlasan dalam bertauhid akan melahirkan ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi atau kemewahan duniawi apa pun. Oleh karena itu, mempelajari ilmu tauhid secara berkelanjutan merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan oleh setiap individu Muslim. Pemahaman yang benar akan menjaga hati dari penyakit syirik khafi atau kesyirikan yang tersembunyi di era modern.
Penerapan tauhid di era disrupsi dapat dimulai dengan menata niat dalam setiap aktivitas digital maupun interaksi sosial kita. Kita harus waspada agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang memuja materi sebagai tujuan akhir kehidupan. Menjadikan zikir dan doa sebagai benteng pertahanan hati akan membantu kita tetap fokus pada rida Allah di tengah kebisingan dunia. Keseimbangan antara ikhtiar mencari rezeki dan tawakal kepada Allah adalah manifestasi nyata dari tauhid yang sehat dan dinamis.
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memperbarui komitmen tauhid kita agar selamat dalam menghadapi fitnah akhir zaman. Kekuatan iman yang berakar pada tauhid yang murni akan membawa kita pada kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita untuk tetap istiqamah di atas jalan pengabdian yang lurus dan penuh berkah. Jadikanlah tauhid sebagai cahaya yang menerangi setiap keputusan hidup kita guna meraih kemuliaan di sisi-Nya.
.png)
.png)
