Dunia digital hari ini telah mengubah wajah diskusi menjadi medan tempur pemikiran yang sering kali kehilangan ruh kemanusiaannya. Kita menyaksikan betapa mudahnya individu melontarkan cacian, label negatif, hingga vonis sesat hanya karena adanya selisih pandangan dalam masalah furu'iyah atau sosial. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, di mana kecerdasan intelektual tidak lagi dibarengi dengan kematangan emosional dan spiritual. Sebagai umat yang dididik dengan wahyu, kita seharusnya menyadari bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang telah diatur oleh Sang Pencipta sebagai sarana untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menjatuhkan.

Islam memandang keberagaman sudut pandang sebagai sebuah keluasan berpikir yang patut disyukuri. Para ulama terdahulu telah memberikan teladan luar biasa dalam mengelola perbedaan. Mereka bisa berbeda pendapat dalam hukum fikih, namun tetap saling merangkul dalam ikatan persaudaraan. Hal ini selaras dengan sebuah kaidah yang sering disampaikan dalam tradisi keilmuan Islam:

اِخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ

Sumber: Muslimchannel