Dewasa ini, ruang publik kita sering kali riuh oleh silang pendapat yang tak jarang berakhir pada caci maki. Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk berdialog telah tergerus oleh ego dan fanatisme buta. Padahal, Islam memandang perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan sejarah dan sunnatullah yang seharusnya menjadi rahmat, bukan laknat. Sebagai umat yang mengaku mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW, kita dituntut untuk meletakkan akhlak di atas segalanya, bahkan ketika kita merasa berada di pihak yang benar secara argumen.

Dalam menyampaikan kebenaran atau menyanggah pendapat yang dianggap keliru, Al-Quran telah memberikan panduan metodologis yang sangat elegan. Kita diperintahkan untuk mengedepankan hikmah dan tutur kata yang baik, bukan provokasi yang memicu perpecahan. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Sumber: Muslimchannel