Eksistensi doa dalam epistemologi Islam bukan sekadar permohonan linear antara makhluk dan Khalik, melainkan merupakan inti sari dari penghambaan itu sendiri. Secara ontologis, doa mencerminkan kefakiran mutlak seorang hamba di hadapan kekayaan mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, dalam skema syariat, efektivitas sebuah doa tidak hanya bergantung pada keikhlasan subjek yang berdoa, tetapi juga dipengaruhi oleh variabel eksternal yang telah ditetapkan oleh Allah, salah satunya adalah dimensi waktu. Para ulama salaf telah menggarisbawahi bahwa terdapat sinkronisasi antara kesiapan spiritual jiwa dengan momentum-momentum kosmik yang dibukanya pintu-pintu langit. Artikel ini akan membedah secara mendalam mengenai waktu-waktu mustajab tersebut dengan pendekatan teks primer Al-Quran dan Al-Hadits.

Dalam diskursus tafsir, kedekatan Allah dengan hamba-Nya saat berdoa digambarkan dengan istilah yang sangat intim. Hal ini menjadi landasan teologis bahwa setiap permohonan pada dasarnya didengar, namun terdapat protokol adab yang harus dipenuhi agar permohonan tersebut melampaui sekat-sekat penghalang.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Sumber: Muslimchannel