JABARONLINE.COM - Momen perayaan Idul Fitri selalu membawa optimisme, termasuk pada gelaran Lebaran tahun 2026 yang baru saja usai. Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) sejatinya diharapkan menjadi penopang stabilitas finansial sementara masyarakat.
Namun, euforia pasca hari raya ini justru dibayangi oleh sebuah realitas ekonomi yang cukup mengkhawatirkan. Tren yang mulai mengemuka adalah fenomena "makan tabungan" atau yang dikenal sebagai dissaving kian meluas di tengah hiruk pikuk belanja hari raya.
Fenomena dissaving ini menimbulkan pertanyaan mendasar di kalangan analis keuangan. Apakah jumlah THR yang diterima oleh pekerja ternyata tidak sebanding dengan kebutuhan konsumsi yang melonjak drastis menjelang Idul Fitri?
Dilansir dari BisnisMarket.com, sebuah studi awal menunjukkan bahwa peningkatan pengeluaran masyarakat selama periode Lebaran melampaui batas ideal yang dapat ditutupi oleh dana THR semata. Hal ini memaksa banyak rumah tangga untuk menarik dana dari aset yang sudah tersimpan.
Kecemasan ini bukan tanpa dasar, sebab pola dissaving yang masif dapat mengganggu perencanaan keuangan jangka panjang masyarakat. Dana darurat atau investasi yang seharusnya aman kini terpaksa dikorbankan demi memenuhi tradisi tahunan.
Meskipun THR cair dan memberikan suntikan likuiditas, dinamika pengeluaran yang tidak terkontrol menjadi variabel utama yang patut dicermati oleh otoritas terkait. Ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara pendapatan musiman dan ekspektasi pengeluaran.
Para ahli ekonomi kini tengah mendalami faktor-faktor struktural yang mendorong masyarakat melakukan penarikan dana tabungan. Mereka mencari tahu apakah ini hanyalah efek sesaat atau cerminan daya beli riil yang sebenarnya.
"Tren 'makan tabungan' atau dissaving justru semakin marak terjadi di tengah lonjakan konsumsi menjelang Idul Fitri," menggarisbawahi kekhawatiran yang muncul setelah perayaan hari raya besar tahun 2026, demikian temuan awal yang terungkap.
Kondisi ini menyoroti pentingnya literasi keuangan yang lebih kuat, terutama dalam mengelola arus kas yang tiba-tiba meningkat signifikan akibat bonus hari raya seperti THR, sebagaimana dicatat oleh sumber berita tersebut.
