Tehran, Iran – Dalam perkembangan politik paling dramatis sejak bertahun-tahun, Assembly of Experts Iran dilaporkan telah secara resmi memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS–Israel.
Keputusan tersebut, menurut laporan media oposisi Iran International, terjadi pada awal bulan Maret 2026 dan menunjukkan transisi kekuasaan yang kontroversial serta berpotensi mengubah lanskap politik di Republik Islam Iran.
Pemilihan Mojtaba Khamenei: Latar Belakang Peristiwa
Menurut beberapa laporan media internasional yang dikutip dari berbagai sumber, Assembly of Experts – badan ulama yang terdiri dari 88 anggota dan bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi – mengambil keputusan di bawah tekanan kuat dari Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pemilihan Mojtaba dianggap sebagai langkah strategis dalam mempertahankan stabilitas rezim di tengah konflik yang semakin meningkat antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Banyak analis melihat keterlibatan IRGC sebagai faktor utama yang memengaruhi pemilihan ini, meskipun ada keraguan soal legitimasi dan tradisi teokratis di Iran.
Siapa Mojtaba Khamenei? Profil Tokoh di Balik Keputusan
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, dalam keluarga ulama yang sangat berpengaruh. Ia adalah anak kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran dari 1989 hingga kematiannya pada 2026.
Mojtaba dikenal sebagai seorang ulama Syiah dan politikus yang memiliki hubungan dekat dengan struktur kekuasaan rezim, terutama dengan IRGC. Meskipun selama bertahun-tahun ia jarang tampil di publik, pengaruhnya dalam jalur kekuasaan Iran tidak bisa diabaikan.
Pendidikan Mojtaba dilakukan di seminari Qom, pusat pendidikan agama Syiah terpenting di Iran, dan sejak muda ia terlibat dalam urusan struktural negara melalui koneksinya dengan keluarga dan jaringan pengaruh Ayatollah Ali Khamenei.
