JABARONLINE.COM - Percepatan langkah reformasi di sektor pasar modal Indonesia kini menjadi sorotan utama para pengamat ekonomi nasional. Inisiatif ini merupakan kolaborasi strategis antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI).

Langkah terpadu ini dinilai krusial untuk memastikan sistem keuangan Indonesia mampu menghadapi berbagai gejolak eksternal maupun internal. Penguatan fondasi ini dipandang sebagai prasyarat utama stabilitas ekonomi jangka panjang.

Noviardi Ferzi, seorang pengamat ekonomi terkemuka, memberikan pandangan mendalam mengenai pentingnya agenda reformasi tersebut. Ia menekankan bahwa upaya ini menyentuh inti dari ketahanan sistem keuangan kita.

Dalam sebuah sesi wawancara yang berlangsung pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, pandangan Noviardi mengenai urgensi kebijakan ini semakin diperkuat. Waktu pelaksanaan reformasi ini dinilai sangat tepat.

Dilansir dari BisnisMarket.com, kebijakan yang saat ini sedang disusun oleh OJK memiliki tujuan yang sangat spesifik. Fokus utamanya adalah membangun pasar modal yang memiliki kedalaman signifikan di pasar.

Lebih lanjut, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menciptakan pasar yang lebih transparan dan memiliki tingkat kredibilitas tinggi di mata investor domestik maupun global. Ini adalah pilar utama reformasi.

"Langkah tersebut sangat penting untuk memperkuat fondasi ketahanan sistem keuangan nasional," tegas Noviardi Ferzi mengenai dampak dari reformasi yang sedang berjalan tersebut.

Selain peningkatan transparansi, reformasi ini diproyeksikan akan terjalin sinergi erat dengan sektor-sektor keuangan lainnya. Ini mencakup aspek peningkatan likuiditas dan tata kelola yang lebih baik.

Sinergi makroprudensial juga menjadi salah satu fokus utama dari kebijakan yang sedang digalakkan oleh kedua lembaga otoritas moneter dan jasa keuangan tersebut. Upaya ini bertujuan menciptakan stabilitas menyeluruh.