Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat satu riwayat yang diposisikan oleh para ulama sebagai Ummus Sunnah atau induk dari segala sunnah, sebagaimana Surah Al-Fatihah diposisikan sebagai Ummul Quran. Hadits ini adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Secara epistemologis, hadits ini merangkum seluruh bangunan agama Islam ke dalam tiga tingkatan utama: Islam, Iman, dan Ihsan. Penelaahan terhadap teks ini memerlukan ketelitian mufassir dan muhaddits untuk mengungkap tabir makna yang terkandung dalam setiap dialog antara Malaikat Jibril dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kehadiran Jibril dalam wujud manusia bukan sekadar fenomena metafisika, melainkan sebuah metodologi pengajaran yang menekankan pentingnya adab, dialektika, dan struktur logika dalam memahami wahyu.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ.
Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, ia berkata: Ketika kami tengah duduk di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada satu pun di antara kami yang mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi, menyandarkan lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan telapak tangannya di atas paha Nabi, lalu berkata: Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam. Secara analisis tekstual, penggambaran fisik Jibril yang sangat bersih menunjukkan urgensi thaharah (kesucian) baik lahir maupun batin dalam menuntut ilmu. Posisi duduk yang merapat menunjukkan derajat kedekatan dan kesungguhan dalam mengambil sanad ilmu langsung dari sumbernya. Istilah Islam di sini menjadi pembuka diskusi yang merujuk pada dimensi eksoteris atau manifestasi lahiriah dari ketundukan seorang hamba.
.png)
.png)