Jabaronline.com – Penetapan status Siaga Militer 1 oleh Panglima TNI menjelang periode Lebaran menuai perhatian publik. Kebijakan tersebut memunculkan beragam tanggapan, termasuk dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari kanal YouTube resmi miliknya, Mahfud menilai status Siaga 1 dalam sistem militer bukanlah keputusan ringan. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut biasanya diambil berdasarkan pertimbangan serius dan laporan intelijen yang matang.

“Tidak mungkin seorang panglima tiba-tiba bangun tidur lalu mengeluarkan perintah siaga satu. Pasti ada mekanismenya. Sesuatu perlu siaga satu itu ukurannya apa saja? Ada sesuatu yang mengancam dan sifatnya serius, itu berdasarkan laporan intelijen, situasi di masyarakat bagaimana dan sebagainya, itu sudah dihitung semuanya,” ujar Mahfud.

Mahfud juga mengungkapkan pengalamannya selama menjabat sebagai Menko Polhukam selama hampir lima tahun. Menurutnya, selama periode tersebut ia tidak pernah menemukan situasi yang sampai membuat TNI menetapkan status Siaga Militer 1.

“Saya hampir lima tahun menjadi Menko Polhukam, rasanya tidak pernah ada perintah siaga satu. Enggak ada siaga satu, enggak pernah ada,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pembinaan Sistem Pertahanan (Bappisus) Aris Marsudiyanto menjelaskan bahwa penetapan status kesiapsiagaan TNI menjelang Lebaran merupakan prosedur operasional yang biasa dilakukan.

Menurut Aris, peningkatan kesiapsiagaan tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan nasional, terutama saat mobilitas masyarakat meningkat selama arus mudik dan libur Hari Raya.

“Ya itu kan SOP rutin ya. Untuk menjaga kondusivitas seluruh rakyat kita dalam melaksanakan hari libur Lebaran. Mudik pulang kampung masing-masing,” ujarnya.

Ia menambahkan, aparat keamanan memang biasanya meningkatkan pengamanan pada masa libur panjang, khususnya di objek vital nasional serta titik-titik strategis yang berpotensi menimbulkan kerawanan.