Fenomena pasangan karier ganda atau *dual-career couples* semakin mendominasi lanskap profesional masa kini, menuntut strategi adaptasi yang matang dalam kehidupan rumah tangga. Keberhasilan finansial seringkali beriringan dengan tantangan besar dalam mengalokasikan waktu berkualitas untuk pasangan.
Studi menunjukkan bahwa konflik utama dalam DCC seringkali berakar pada pembagian tugas domestik dan manajemen waktu yang tidak merata setelah jam kerja panjang. Keterbatasan waktu ini dapat memicu kelelahan emosional dan mengurangi kualitas interaksi intim antara kedua belah pihak.
Pergeseran peran gender dan tuntutan ekonomi yang meningkat menjadi pendorong utama banyak pasangan untuk mengejar karier yang setara. Latar belakang ini menempatkan komunikasi terbuka mengenai prioritas jangka pendek dan jangka panjang sebagai kunci fundamental.
Menurut psikolog hubungan, Dr. Riana Dewi, sinkronisasi ambisi adalah hal yang lebih penting daripada sekadar pembagian tugas harian. Pasangan harus secara reguler mendiskusikan "peta jalan" karier masing-masing agar tujuan individu tidak menghambat tujuan kolektif hubungan.
Kegagalan mengelola ambisi secara kolektif dapat berimplikasi pada peningkatan stres kerja yang dibawa pulang dan munculnya rasa pengorbanan sepihak. Resentimen yang terakumulasi akibat ketidakseimbangan ini merupakan ancaman serius yang dapat mengikis fondasi kepercayaan dalam hubungan.
Tren kerja fleksibel dan WFH (work from home) menawarkan peluang baru bagi DCC untuk menyelaraskan jadwal profesional dan personal dengan lebih baik. Pemanfaatan teknologi untuk perencanaan bersama dan menetapkan 'zona bebas kerja' di rumah menjadi solusi praktis yang banyak diterapkan.
Pada akhirnya, menjaga hubungan harmonis di tengah karier ganda membutuhkan kesengajaan dan komitmen kuat dari kedua belah pihak. Dukungan timbal balik dan perayaan atas keberhasilan masing-masing adalah bahan bakar utama untuk memastikan ambisi profesional tidak pernah menjadi penghalang cinta.
.png)
.png)
