JABARONLINE.COM - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi lonjakan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengancam stabilitas energi nasional. Langkah proaktif ini merupakan bagian integral dari strategi mitigasi risiko jangka pendek yang sedang disusun pemerintah.

Pemerintah berupaya keras mencegah terjadinya krisis energi yang dapat memicu kenaikan harga BBM secara signifikan di tengah ketidakpastian global. Fokus utama saat ini adalah meminimalisir ketergantungan konsumsi energi fosil di sektor publik dan swasta.

Presiden secara eksplisit telah meminta jajaran menteri di Kabinet Merah Putih untuk segera melaksanakan kajian mendalam mengenai efisiensi energi. Kajian ini harus mencakup berbagai opsi kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat.

Salah satu opsi kebijakan yang mendapat perhatian serius adalah penerapan kebijakan Kerja Dari Rumah atau Work From Home (WFH) dalam skala yang lebih luas. Kebijakan ini dipandang efektif untuk mengurangi pergerakan kendaraan bermotor di jalan raya.

Selain WFH, opsi lain yang dipertimbangkan adalah kemungkinan pemotongan atau penyesuaian hari kerja nasional. Tujuannya adalah menekan permintaan energi transportasi secara struktural dalam jangka waktu tertentu.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap dinamika pasar energi global yang berpotensi memengaruhi ketersediaan BBM di dalam negeri. Pemerintah ingin memastikan ketahanan energi tetap terjaga.

Pihak kepresidenan menekankan bahwa semua opsi yang diajukan harus bersifat radikal dan terukur dampaknya terhadap perekonomian. Hasil kajian ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis selanjutnya.

"Ia secara khusus meminta jajaran menteri dalam Kabinet Merah Putih untuk segera menyusun kajian mendalam mengenai berbagai opsi efisiensi energi yang dapat diterapkan," bunyi instruksi tersebut.

Kebijakan WFH skala besar ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengurangan volume kendaraan yang beroperasi di jalan raya secara drastis, ujar sumber internal pemerintah.